Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Sang Primadona

Cerpen A. Mustofa Bisri

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***

Ngelmu Sigar Rasa

Cerpen: A Mustofa Bisri
Sumber: Media Indonesia, Edisi 07/06/2003


AKU beruntung bisa bertemu dengan Mbah Joned. Kabar yang sampai kepadaku sebelumnya, tidak setiap orang bisa bertemu atau ditemui kiai sepuh yang melegenda itu. Bahkan, konon ada yang sudah sowan 12 kali tidak pernah bertemu atau tidak ditemui oleh beliau. Menurut kepercayaan orang-orang yang mengenalnya, Mbah Joned memang tidak selalu bersedia ditemui. Ada seorang jenderal yang sudah menunggu seharian, gagal bertemu dengan beliau. Tetapi, seorang kusir dokar malah disambut di depan pintu rumah beliau dengan penuh penghormatan. Kabarnya Mbah Joned tahu tujuan setiap orang yang akan sowan. Dan, berdasarkan tujuan si tamu itulah, Mbah Joned bersedia menemui atau tidak. Wallahualam, yang penting alhamdulillah aku ditemui beliau.
Aku dan beberapa tamu yang lain ditemui Mbah Joned di 'ruang tamu'-nya, sebuah kamar yang pengap. Hanya ada sebuah kursi di ruang itu, kursi besar yang beliau duduki. Sedangkan kami, tamu-tamunya, dipersilakan duduk di dipan yang rupanya tempat beliau tidur. Dipan bambu itu beralaskan tikar compang-camping dan di sana-sini, menumpuk pakaian-pakaian bercampur dengan kitab-kitab yang hampir semua kelihatan sudah kuno. Kami disuguhi minuman yang berbeda-beda dengan cangkir yang berbeda-beda pula. Ada yang mendapat teh dalam cangkir porselen, ada yang kopi dalam cangkir kaleng, ada yang wedang jahe dalam cangkir tanpa pegangan, dsb. Konon, semua itu ada maknanya, tetapi entah, aku sendiri tak begitu mengerti. Aku sendiri mendapat minuman legen--nira yang baru disadap--dalam gelas bambu. Makanannya, semua rebusan: jagung, ketela, kacang, pisang, dan gendoyo, semangka muda.
Rata-rata tamu yang bersamaku tidak menyampaikan maksud apa-apa sebelum ditanya atau didawuhi. Mereka hanya menunggu apa kata Mbah Joned dan segera pamit pulang setelah disodori tangan beliau untuk bersalaman. Aku sengaja menunggu mereka semua pergi dan agaknya Mbah Joned sendiri arif tentang hal ini. Beliau tidak menanyaiku apa-apa, sebelum semua tamu yang lain pergi.
"Nah, sekarang tinggal kita bertiga, silakan, sampaikan keperluan sampeyan!" kata Mbah Joned ramah. Hampir saja aku bertanya, kok bertiga? Siapa yang lain? Untung aku segera menyadari bahwa yang dimaksud tentu kami berdua dan Allah. Maka, aku langsung memberanikan diri menyampaikan maksudku, ingin memohon ijazah*) dari beliau.
"Wah, Sampeyan beruntung," kata Mbah Joned lagi sambil mengawasi diriku seperti mengawasi makhluk aneh, "hari ini aku sedang murah hati. Sampeyan akan aku beri ijazah istimewa. Ngelmu yang akan aku ijazahkan kepada Sampeyan ini sudah jarang dipunyai orang zaman sekarang dan belum pernah aku ijazahkan kepada orang lain."
Hatiku berbunga-bunga mendengar dawuh Mbah Joned itu, tetapi agak deg-degan juga aku ketika beliau melanjutkan, "Ya, asal Sampeyan sanggup dan berhasil menerimanya." Apa kira-kira maksud beliau?
Aku tidak perlu terlalu lama bertanya-tanya karena kemudian beliau bangkit dari kursi antiknya dan beranjak duduk di dipan, di sampingku. Dipegangnya pundakku dan dihadapkan ke arah beliau. Kami berhadap-hadapan kini.
"Sampeyan sudah siap?"
Aku mengangguk ragu-ragu.
"Yang mantap! Siap atau tidak?"
"Siap, Mbah!"
"Aku akan merapalkan bacaannya dan tidak boleh Sampeyan tulis! Siap?"
"Ya, Mbah!"
Kemudian Mbah Joned merapalkan bacaan yang terdiri dari lafal-lafal Arab campur Jawa.
"Nah, Sampeyan sudah menangkapnya?"
Aku bingung.
"Jika apa yang aku rapalkan tadi Sampeyan bisa hafal, berarti ngelmu ini jodoh untuk Sampeyan. Kalau tidak ya sudah, tidak jodoh namanya."
Aku diam saja karena memang hanya sebagian saja yang bisa aku tangkap dan hafal.
"Baiklah, hari ini Sampeyan memang beruntung, aku lagi murah hati. Aku akan membacanya sekali lagi. Dengarkan baik-baik! Siap?"
Aku mengangguk.
Mbah Joned kembali merapalkan bacaannya, kali ini lebih cepat dari yang pertama tadi. Kemudian dipandanginya wajahku dan katanya memerintah, "Coba Sampeyan ulangi apa yang baru aku baca!"
Dengan memeras ingatan, alhamdulillah, aku berhasil mengulangi apa yang beliau baca. Mbah Joned langsung menangkap tanganku, disalaminya, "Selamat! Jodoh! Sampeyan berhasil!"
Kemudian diterangkan tata caranya mengamalkan ngelmu yang beliau sebut sebagai Sigar Raga itu. Setelah aku memahami semua penjelasannya, aku pun pamit sambil berkali-kali menyampaikan terima kasih.
Di sepanjang jalan dalam perjalanan pulang, aku ulang-ulang bacaan ijazah Mbah Joned itu, agar tidak hilang dari ingatan.
***
Rasanya tidak sabar untuk segera mengamalkan ngelmu Sigar Raga pemberian Mbah Joned. Segera setelah sampai rumah, aku langsung mempersiapkan diri. Inilah yang lama aku idam-idamkan, mengamalkan ngelmu Mbah Joned yang terkenal ampuh itu.
Singkat cerita, aku benar-benar melakukan puasa mutih**) selama tujuh hari. Mula-mula ibuku menanyakan juga, tetapi setelah aku katakan bahwa aku hanya ingin tirakat, beliau pun tak bertanya-tanya lagi.
Begitulah, pada malam hari kedelapan, aku praktikkan tata cara yang diajarkan Mbah Joned. Aku berpakaian serbaputih dan tidur telentang di atas tanah sendirian di tengah malam, lalu aku rapalkan bacaannya dan aku bayangkan diriku keluar dari tubuhku yang telentang. Ajaib. Mungkin bacaan itu memperkuat konsentrasiku, atau bagaimana, entahlah. Yang jelas aku tiba-tiba bisa membayangkan sangat jelas diriku sendiri keluar dari tubuhku yang telentang. Pelan-pelan diriku meninggalkan tubuhku. Sambil telentang kulihat diriku tersenyum menjauhiku. Ketika sampai di pintu, aku membalik melihat diriku yang telentang dan tersenyum pula kepadaku. Dan, sesuai wejangan Mbah Joned, aku pun kemudian berkata kepada diriku yang telentang mengawasiku, "Mus, ingsun arep lungo, siro kario nang ngomah!" (Mus, aku pergi ya, kamu tinggal saja di rumah!). Kulihat diriku mengangguk dan melambaikan tangan. Aku pun pergi meninggalkan diriku.
***
Aku termasuk aktivis termuda dalam partaiku. Siang malam tenaga dan pikiranku aku curahkan untuk partai. Rapat-rapat, turba ke daerah-daerah, dan tentu saja kampanye terselubung maupun resmi, aku jalani dengan penuh semangat. Aku ikuti dan teladani semua sikap dan gerak-gerik seniorku. Bahkan, tak mengapa, aku rela, kadang-kadang menjadi pesuruhnya atau keluarganya, di kantor maupun di rumah. Dan, jerih-payahku tidak sia-sia. Akhirnya aku terpilih menjadi salah satu ketua di partai tingkat pusat. Dalam pencalonan aku termasuk urutan jadi di DPR.
Ketika sudah duduk terhormat sebagai wakil rakyat, inilah saat menuai jerih payahku selama ini. Aku mendapat perumahan yang cukup mentereng dan mobil bergengsi. Gajiku besar. Belum lagi jika dihitung macam-macam tunjangan. Masih ada pemasukan-pemasukan tambahan, seperti jika ada kenalan yang membutuhkan jasaku untuk memperoleh jabatan ini-itu, aku selalu mendapatkan persenan yang lumayan. Koleksi mobilku dan jumlah simpanan dalam rekeningku di berbagai bank terus bertambah. Pendek kata, hidupku makmur kini. Selamat tinggal hidup sulit!
Bila aku turba ke daerah, semuanya sudah diatur 'anak buah'-ku. Aku tinggal datang menggunakan pesawat, lalu di daerah sudah ada yang menjemput. Pekerjaanku tinggal menyampaikan informasi tentang perkembangan politik aktual dan memberikan brifing-brifing. Kalau capek, hotel berbintang sudah disiapkan untukku komplet dengan tukang pijat yang yahud.
Semua orang menghormatiku. Bicara dan sikapku selalu dibenarkan oleh semua orang yang ada di sekelilingku. Setiap kali aku bermusyawarah dengan para pembantuku dan bertanya sesuatu, selalu mereka menjawab serempak, "Apa yang baik menurut Bapak, itulah yang terbaik menurut kami." Juga ketika aku membisikkan keinginanku 'menyimpan' artis cantik favoritku kepada orang kepercayaanku, spontan dia mendukungnya seratus persen. Bahkan, dia bersedia memfasilitasi. Aku tinggal tahu beres.
Entah bagaimana caranya, orang kepercayaanku itu bisa saja mendapatkan rumah yang molek di pinggiran kota untuk si artis kesayanganku. Setiap kali aku merasa pusing memikirkan tetek-bengek urusan kantor atau Dewan, aku segera meluncur dengan BMW atau Marcedesku ke rumah molek itu. Dan, artis kesayanganku sudah menungguku dengan manja. Pusing pun lenyap. Seharian aku bermain-main dan berpesta-pora dengan kesayanganku. Sedap juga hidup begini.
***
Ketika reses panjang, semua anggota DPR dari partaiku mendapat tugas pembinaan ke daerah. Atas usulku disetujui bahwa tugas semua anggota melakukan pembinaan ke daerah masing-masing. Alhamdulillah. Sebenarnya latar belakang usulku itu bersifat pribadi. Aku ingin menjenguk rumah yang sudah cukup lama kutinggalkan. Aku berangkat naik pesawat, kemudian dari kota provinsi aku melanjutkan dengan taksi. Aku sengaja tidak menggunakan mobil pribadi karena aku pikir akan sangat capek di perjalanan. Lagi pula, dalam ketentuan lumsum disebutkan transportasi menggunakan pesawat. Aku hanya membawa tas kecil dan sekadar oleh-oleh yang dibelikan stafku ketika di airport, "Untuk ibunda, madu Sumbawa," katanya.
Magrib, taksiku sampai tujuan. Kampung halamanku ternyata masih tetap seperti sediakala. Tidak terlalu kumuh, tetapi kentara sekali sebagai daerah miskin. Di pinggir-pinggir jalan beberapa lampu 10 watt yang dipasang di tiang-tiang bambu--dengan kabel berseliweran--sudah mulai menyala. Listrik di pinggir jalan ini sajalah yang menunjukkan bahwa kampungku tersentuh pembangunan. Ada sedikit rasa malu singgah sebentar, tetapi ah, mengapa dipikirin.
Memasuki halaman rumahku, aku agak gembira. Tampak lebih bersih dan pagar hidup dari tanaman luntas di depan rumah kelihatan terawat baik. Ini pasti kerja Lik Tukin, adik ibu yang selama ini mengawani dan membantunya. Orang tua itu memang sering keluar rajinnya. Setelah membayar taksi, aku masih berdiri di depan rumahku yang terbuat dari kayu tanpa dicat. Masih tetap seperti dulu. Di depan pintu ada lampu 10 watt seperti lampu-lampu di jalan. Aku berharap ibuku atau Lik Tukin mendengar suara erangan taksi dan keluar menyambutku. Tetapi, ternyata lengang-lengang saja. Ke mana gerangan ibu? Dan, ke mana pula Lik Tukin? Pintu rumah tidak terkunci, berarti mereka tidak sedang keluar.
Aku masuk rumah. Ternyata keadaaan di dalam rumah juga bersih, meski tidak ada perubahan. Meja-kursi masih meja-kursi yang dulu. Juga sekesel kuno yang ada gambarnya burak dan Masjid Demak, masih berdiri menyekat ruang. Ke mana saja uang yang setiap kali aku kirimkan untuk memperbaiki dan melengkapi perabotan rumah? Mungkin dibelikan sawah oleh ibu. Syukurlah jika begitu. Investasi berupa sawah atau tanah memang menguntungkan. Tak bakal merugi. Baru saja aku meletakkan tasku, kudengar suara lirih dari dalam salah satu kamar, kamar ibuku. "Mus ya?" Ah, itu dia suara ibu. Aku merasa lega sekaligus heran, bagaimana beliau tahu aku datang? "Likmu Tukin sudah datang?" Aku tak menjawab, tetapi langsung masuk ke kamar sambil menjinjing bungkusan oleh-oleh madu Sumbawa.
Ibu sedang bersujud, mencopot rukuhnya. Meski membelakangiku, tampaknya ibu merasakan kehadiranku. Beliau terus berbicara, meski aku bingung menangkap maksudnya, "Kau belikan pesananku, Mus?" Lo, pesanan apa? Aku benar-benar bingung. Mengapa ibu biasa-biasa saja aku datang? Tidak menyambutku. Bahkan, seperti sama sekali tidak terkejut atau gembira. Sejenak aku masih berdiri tertegun sambil mengawasinya mengemasi mukenanya. Tetapi, akhirnya aku memutuskan menyapanya.
"Bu, aku datang!"
Ibu membalikkan tubuhnya sambil tertawa. Matanya terbelalak melihat diriku, tetapi tawanya makin berderai. "Lo, Mus, apa-apaan kau ini?" katanya di sela-sela derai tawanya. Ini bukan sambutan ibu untuk anaknya yang lama tak pulang, pikirku. "Kapan kau datang dan akan terus pergi ke mana malam-malam begini?" tanyanya semakin membuatku tidak mengerti. "Itu pakaian siapa yang kaupakai? Kayak orang kota saja! Itu madu yang kupesan ya?!" Dalam kebingungan aku hampiri beliau dan aku cium tangannya. Tetapi aneh. Seperti geli, ibu menarik tangannya. "Hei, Mus, kesambet di mana kau ini?"
Aku sungguh tidak mengerti. Tak ada satu patah kata pun yang diucapkan ibu aku pahami. Sampai masuk seorang lelaki berpakaian putih-putih sambil menjinjing bungkusan persis seperti bungkusan oleh-oleh yang dibelikan stafku. Madu Sumbawa. Aku berdiri mematung mengawasinya. Demikian pula dia....
***
Selesai berjemaah magrib di masjid, bersama Haji Muin, aku mampir ke tokonya, mengambil madu Sumbawa titipan ibu. Ternyata di tempat sahabat almarhum ayahku itu aku ditahan untuk makan malam. Mudah-mudahan saja ibu tidak gelisah menungguku. Sebenarnya setelah makan, Haji Muin masih menahanku ingin mengajak ngobrol, tetapi setelah aku ingatkan tentang ibuku yang sendirian di rumah, dia memaklumi dan membiarkan aku pulang.
Sampai di rumah, tanpa menoleh, aku langsung menuju ke kamar ibu. Aku kaget, kulihat seorang lelaki ada di kamar ibuku. Orang itu memandangku seperti melihat hantu. Aku terpaku memandanginya. Demikian pula dia....
***
Perempuan dalam kamar itu terus tertawa melihat anaknya tiba-tiba menjadi seperti patung. Ketika beranjak ke dapur sambil membawa bungkusan madu Sumbawa pun masih terdengar derai tawanya. "Mus, Mus, aneh-aneh saja kau!" katanya di sela-sela tawanya yang semakin geli.
***
Rembang, 9 Ramadan 1423
*) ijazah = pemberian doa, wirid, atau bacaan-bacaan, ada kepercayaan: doa, wirid, atau bacaan-bacaan yang diamalkan tanpa ijazah, tidak manjur, bahkan bisa berbahaya.
**) mutih = dari kata putih, puasa dengan berbuka tanpa lauk. Biasanya hanya dengan nasi dan garam

Selasa, 20 September 2011

Rasanya Baru Kemarin...

Puisi: KH.Mustafa Bisri

Rasanya
Baru kemarin

Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia.

Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDIP saja.

Rasanya
Baru kemarin.

Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya
Baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.
Menteri-menteri yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi

Rasanya baru kemarin

Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pemerintah yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat

Rasanya baru kemarin

Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh

Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan

Rasanya
Baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka
Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,
dan Kura-kura Ninja

Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya
Baru kemarin

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin

Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis
Dilalap krisis dan anarkis
Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri

Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi

Rasanya baru kemarin

Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita
Merdeka.

Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa

Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu

Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang lupa

Rasanya baru kemarin

Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka

Rasanya baru kemarin

Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata

Rasanya baru kemarin

Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi

Rasanya baru kemarin

Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian

Rasanya baru kemarin

Legislatif yang lama sekali non aktif
Dan yudikatif yang pasif
Mulai pandai menyaingi eksekutif
Dalam mencari insentif

Rasanya baru kemarin

Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru

Rasanya
Baru kemarin

Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan
Sudah mulai kebingungan menerima orderan
NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis
Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis

Rasanya
Baru kemarin

Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan
Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi
Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati
Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini

Rasanya baru kemarin

Habibie sudah meninggalkan
Negeri menenangkan diri
Gus Dur sudah meninggalkan
Atau ditinggalkan partainya seorang diri

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya
Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan Abdurrahman
Mengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan
Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan

Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar
menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar
Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar
Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar

SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga
Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka
Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara

Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan
Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan
Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan

Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar
Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar
Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar

Rasanya baru kemarin

Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan
Obyek dan dipilihkan
Kini sudah dimerdekakan Tuhan
Dapat sendiri menentukan pilihan
Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan
Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan
Rakyat yang kebingungan mencari panutan
Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan
(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaiman rasanya
Merdeka?)
Rasanya baru kemarin
Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus
Aku sendiri tetap menjadi tikus

(Hari ini
setelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)
Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita
Merdeka

(Ingin rasanya
aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)

Rembang, 17 Agustus 2004